Sabtu, 01 Juni 2013

semua tentang DM (Diabetes Millitus)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tertua pada manusia. Berasal dari istilah kata Yunani, Diabetes yang berarti pancuran dan Melitus yang berarti madu atau gula. Kurang lebih istilah Diabetes mellitus menggambarkan gejala diabetes yang tidak terkontrol, yakni banyak keluar air seni yang manis karena mengandung gula. Oleh karena demikian, dalam istilah lain penyakit ini disebut juga “Kencing Manis”.
Berbagai penelitian menunjukan bahwa kepatuhan pada pengobatan penyakit yang bersifat kronis baik dari segi medis maupun nutrisi, pada umumnya rendah. Dan penelitian terhadap penyandang diabetes mendapatkan 75 % diantaranya menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat, 58 % memakai dosis yang salah, dan 80 % tidak mengikuti diet yang tidak dianjurkan.(Endang Basuki dalam Sidartawan Soegondo, dkk 2004).
Jumlah penderita penyakit diabetes melitus akhir-akhir ini menunjukan kenaikan yang bermakna di seluruh dunia. Perubahan gaya hidup seperti pola makan dan berkurangnya aktivitas fisik dianggap sebagai faktor-faktor penyebab terpenting. Oleh karenanya, DM dapat saja timbul pada orang tanpa riwayat DM dalam keluarga dimana proses terjadinya penyakit  memakan waktu bertahun-tahun dan sebagian besar berlangsung tanpa gejala. Namun penyakit DM dapat dicegah jika kita mengetahui dasar-dasar penyakit dengan baik dan mewaspadai perubahan gaya hidup kita (Elvina Karyadi, 2006).
Penderita diabetes mellitus dari tahun ke tahun mengalami peningkatan menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), penduduk dunia yang menderita diabetes mellitus sudah mencakupi sekitar 197 juta jiwa, dan dengan angka kematian sekitar 3,2 juta orang.
WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus akan menjadi sekitar 366 juta orang pada tahun 2030. Penyumbang peningkatan angka tadi merupakan negara-negara berkembang, yang mengalami kenaikan penderita diabetes mellitus 150 % yaitu negara penderita diabetes mellitus terbanyak adalah India (35,5 juta orang), Cina (23,8 juta orang), Amerika Serikat (16 juta orang), Rusia (9,7 juta orang), dan Jepang (6,7 juta orang).
WHO menyatakan, penderita diabetes mellitus di Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan 8,4 juta jiwa pada tahun 2000,menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tingginya angka kematian tersebut menjadikan Indonesia menduduki ranking ke-4 dunia setelah Amerika Serikat, India dan Cina (Depkes RI, 2004).
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), terjadi pengukuran prevalensi Diabetes mellitus (DM) dari tahun 2001 sebesar 7,5 % menjadi 10,4 % pada tahun 2004, sementara hasil survey BPS tahun 2003 menyatakan bahwa prevalensi diabetes mellitus mencapai 14,7  % di perkotaan dan 7,2 % di pedesaan.
Sedangkan di Medan, Sumatera Utara penyakit diabetes miletus merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita pasien yang melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Pirngadi Medan selama Bulan April 2011. Berdasarkan data yang ada jumlah kunjungan rawat jalan di rumah sakit milik Pemkot Medan tersebut pada April 2011 mencapai 4730 orang.
Namun dari data tersebut jumlah penyakit yang mendominasi adalah Diabetes Mallitus (DM) yaitu mencapai 1404 kunjungan dan jumlah kasus baru DM yang ditemukan mencapai 134 orang.
Oleh karena itu, kita membuat makalah ini bertujuan untuk memberi sedikit pengetahuan bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi penderita Diabetes Mellitus.


2.1 Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1.      Apa yang di maksud dengan diabetes mellitus?
2.      Apa saja tipe dari diabetes mellitus?
3.      Bagaimana epidemiologi diabetes mellitus?
4.      Bagaimana gambaran klinis dari diabetes mellitus?
5.      Bagaimana patofisiologi dari penyakit diabetes mellitus?
6.      Bagaimana cara diagnose diabetes mellitus?
7.      Apa hubungan diabetes mellitus dengan komplikasi penyakit lain?
8.      Bagaimana cara pengobatan diabetes mellitus?
9.      Apa saja program penanggulangan penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia?


1.3 Tujuan
            Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Mengetahui definisi dari diabetes mellitus
2.      Mengetahui tipe-tipe dari diabetes mellitus
3.      Mengetahui epidemiologi diabetes mellitus
4.      Mengetahui gambaran klinis dari diabetes mellitus
5.      Mengetahui patofisiologi dari poenyakit diabetes mellitus
6.      Mengetahui cara diagnose penyakit diabetes mellitus
7.      Mengetahui hubungan diabetes mellitus dengan komplikasi
8.      Mengetahui cara pengobatan diabetes mellitus
9.      Mengetahui program-program dalam penanggulangan diabetes mellitus di Indonesia,




















BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Definisi diabetes mellitus
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tertua pada manusia. Berasal dari istilah kata Yunani, Diabetes yang berarti pancuran dan Melitus yang berarti madu atau gula. Kurang lebih istilah Diabetes mellitus menggambarkan gejala diabetes yang tidak terkontrol, yakni banyak keluar air seni yang manis karena mengandung gula. Oleh karena demikian, dalam istilah lain penyakit ini disebut juga “Kencing Manis”.
Menurut              WHO istilah ‘diabetes mellitus’ digunakan untuk menggambarkan kelainan metabolik dengan berbagai macam penyebab yang ditandai dengan hiperglikemia dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Penyakit ini terjadi akibat gangguan sekresi insulin atau gangguan kerja insulin, atau keduanya. Efek diabetes mellitus meliputi kerusakan jangka panjang, yaitu gangguan pada berbagai macam organ.


2.2  Tipe dari diabetes mellitus
Ada 2 tipe Diabetes mellitus:
A.    Diabetes mellitus Tipe 1 (IDDM : Insulin Dependent Diabetes Mellitus) :
tergantung dengan insulin.
Pada tipe ini terdapat kerusakan sel-sel dalam pankreas sehingga tidak dapat memproduksi insulin lagi, akibatnya sel-sel tidak bisa menyerap glukosa dari darah.
Tipe 1 banyak diderita oleh orang-orang di bawah usia 30 tahun dan paling sering dimulai pada usia remaja 10-13 tahun. Tipe 1 ini biasanya diterapi dengan pemberian suntikan insulin.
B.     Diabetes mellitus Tipe 2 (NIDDM : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) :
tidak tergantung dengan insulin.
Akibat proses penuaan banyak penderita jenis ini mengalami penurunan fungsi sel-sel dalam pankreas sehingga insulin yang dihasilkan jumlahnya berkurang.
Pada umumnya tipe ini dimulai pada usia dewasa di atas 40 tahun dengan kejadian lebih besar pada orang gemuk (overweight). Tipe 2 ini dimulai dengan keluhan ringan yang sering kali tidak dikenali sampai timbul gejala stadium lanjut, bahkan sampai terjadi komplikasi. Oleh karena itu jika terdapat gejala penyakit diabetes, segeralah berkonsultasi dengan dokter.


2.3  Epidemiologi diabetes mellitus
Secara epidemiologi DM seringkali tidak terdeteksi. Berbagai faktor genetik, lingkungan dan cara hidup berperan dalam perjalanan penyakit diabetes. Ada kecenderungan penyakit ini timbul dalam keluarga. Disamping itu juga ditemukan perbedaan kekerapan dan komplikasi diantara ras, negara dan kebudayaan.
Dari segi epidemiologi, ada beberapa jenis diabetes. Dulu ada yang disebut diabetes pada anak, atau diabetes juvenilis dan diabetes dewasa atau “maturity-onset diabetes”. Karena istilah ini kurang tepat, sekarang yang pertama disebut DM tipe 1 dan yang kedua disebut DM tipe 2. Ada pula jenis lain, yaitu diabetes mellitus gestasional yang timbul hanya pada saat hamil, dan diabetes yang disebabkan oleh karena kerusakan pankreas akibat kurang gizi disebut MRDM (Malnutrition Related DM) atau Diabetes mellitus Terkait Malnutrisi (DMTM).
Kekerapan DM tipe 1 di negara Barat ± 10% dari DM tipe 2. Bahkan di negara tropik jauh lebih sedikit lagi. Gambaran kliniknya biasanya timbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada masa akil balik. Tetapi ada juga yang timbul pada masa dewasa.
DM tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%). Timbul makin sering setelah umur 40 dengan catatan pada dekade ke 7 kekerapan diabetes mencapai 3 sampai 4 kali lebih tinggi daripada rata-rata orang dewasa.
Pada keadaan dengan kadar glukosa darah tidak terlalu tinggi atau belum ada komplikasi, biasanya pasien tidak berobat  ke rumah sakit atau ke dokter. Ada juga yang sudah di diagnosis sebagai diabetes tetapi karena kekurangan biaya biasanya pasien tidak berobat lagi. Hal ini menyebabkan jumlah pasien yang tidak terdiagnosis lebih banyak daripada yang terdiagnosis. Menurut penelitian keadaan ini pada negara maju sudah lebih dari 50% yang tidak terdiagnosis dan dapat dibayangkan berapa besar angka itu di negara berkembang termasuk Indonesia (Slamet Suyono Dalam Pusat Diabetes dan Lipid, 2007).
Penelitian lain menyatakan bahwa dengan adanya urbanisasi, populasi DM tipe 2 akan meningkat menjadi 5 – 10 kali lipat karena terjadi perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor resiko yang berubah secara epidemiologis adalah bertambahnya usia, jumlah dan lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan hiperinsulinemia. Semua faktor ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya DM tipe 2 (Soegondo, 1999).
Tanpa intervensi yang efektif, kekerapan DM tipe 2 akan meningkat disebabkan oleh berbagai hal misalnya bertambahnya usia harapan hidup, berkurangnya kematian akibat infeksi dan meningkatnya faktor resiko yang disebabkan oleh karena gaya hidup yang salah seperti kegemukan, kurang gerak/ aktivitas dan pola makan tidak sehat dan tidak teratur (Slamet Suyono Dalam Pusat Diabetes dan Lipid, 2007).
·         Frekuensi
Tabel 1. Penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit di indonesia tahun 2002
No
Jenis penyakit
%
1
Stroke, tanpa perdarahan
5.9
2
Pneumonia
3.5
3
Demam tifoid
3.5
4
Tuberkulosis paru
3.3
5
Perdarahan intracranial
3.1
6
Diabetes mellitus
3.0
7
Pertumbuhan janin lamban, malnutrisi janin, dan gangguan yang berhubungan dengan kelainan prematur
3.0
8
Trauma (klasifikasi lainnya)
2.9
9
Penyakit jantung (klasifikasi lainnya)
2.9
10
Gagal ginjal (klasifikasi lainnya)
2.9




Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

Table 1 diatas menunjukkan bahwa penyakit diabetes mellitus di urutan ke enam dengan precalensi sebesar 3.0% dari 10 penyakit yang ada di rumah sakit yang mennjadi penyebab utama kematian.


Table 2. distribusi penyakit diabetes mellitus dan penyakit metabolic lainnya pasien rawat inap di rumah sakit tahun 2005.
No
Penyakit
Jumalah kasus
Jumlah mati
CFR %
1
Diabetes mellitus
42.000
3.316
7.9
2
Tiroktosikosis
913
67
7.3
3
Gangguan kelenjar tyroid lainnya
4.065
148
3.6
4
Penyakit endokrin dan metabolic lainnya
9.912
823
8.3
Sumber: Statistik RS. Indonesia Edisi Tahun 2005, Ditjen Yanmed Depkes RI

Table 2 diatas menunjukkan bahwa kematian akibat penyakit di apsien rawat inap rumah sakit tertinggi disebabkan oleh diabetes mellitus yaitu sebanyak 3.316 kematian dengan CFR 7.9%. jadi berdasarkan kedua table diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun penyakit diabetes mellitus berada urutan ke enam dari 10 penyakit yang dapat menyebabkan kematian dirumah sakit Indonesia tetapi diabetes mellitus berada diurutan pertama penyebab kematian di pasien rawat inap rumah sakit.

·         Distribusi
a)      Distribusi menurut orang
Berdasakan timbulnya penyakit diabetes mellitus dapat disimpulkan bahwa orang yang berisiko mengalami diabetes mellitus adalah mereka yang memiliki riwayyat diabetes dari keluarga. Pasien diabetes mellitus tipe 2 umumnya dewasa usia 40-an dan mengalami kegemukan (obesitas), dan tidak aktif. Sedangkan pada diabetes mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja, salah satu penyebabnya adalah seringgnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat >4 kg juga berisiko mengalami diabetes mellitus.
Grafik 1 Perkiraan Jumlah Orang Dewasa Dengan Diabetes Mellitus Menurut Kelompok Umur Untuk Negara Maju dan Negara Berkembang Tahun 2000 dan 2030 
 Sumber : Data Sekunder
Diagram 1 menunjukkan bahwa di Negara maju  orang dewasa yang berisiko untuk terkena Diabetes Mellitus adalah yang berumur 65 tahun ke atas sedangkan di Negara berkembang orang dewasa yang berisiko terkena Diabetes Mellitus adalah umur 46-64 tahun.
Grafik 2 Prevalensi Diabetes Mellitus Global Menurut Jenis Kelamin dan Umur Tahun 2000.
  Sumber : Data Sekunder 
Grafik 2 menunujukkan bahwa prevalensi kejadian Diabetes Mellitus untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama hanya berbeda pada umur 70-80 tahun  


b)     Distribusi menurut tempat
          Tabel 3 Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus Di Beberapa Negara Tahun 2000 dan 2030 
No
Rangking negara tahun 2000
Orang dengan DM (juta)
Rangking negara tahun 2030
Orang dengan DM (juta)
1.
India
31,7
India
79,4
2.
Cina
20,8
Cina
42,3
3.
Amerika Serikat
17,7
Amerika Serikat
30,3
4.
Indonesia
8,4
Indonesia
21,3
5.
Jepang
6,8
Pakistan
13,9
6.
Pakistan
5,2
Brazil
11,3
7.
Federasi Rusia
4,6
Banglades
11,1
8.
Brazil
4,6
Jepang
8,9
9.
Italia
4,3
Filipina
7,8
10.
Banglades
3,2
Mesir
6,7
Sumber: Data Sekunder            

 Tabel 3 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat keempat dengan penderita terbesar di dunia yaitu 8,4 juta orang pada tahun 2000 dan diperkirakan terus meningkat dari taun ke tahun yaitu sebanyak 21, 3 juta orang penderita Diabetes Mellitus. 


c)       Distribusi menurut waktu
Lamanya seseorang menderita penyakit dapat memberikan gambaran mengenai tingkat patogenesitas penyakit tersebut. Peningkatan angka kesakitan Diabetes Mellitus dari waktu ke waktu lebih benyak disebabkan oleh faktor herediter, life style (kebiasaan hidup) dan faktor lingkungannya. Komplikasi Diabetes Mellitus dengan penyakit lain terkait dengan lamanya seseorang menderita Diabetes Mellitus, semakin lama seseorang menderita Diabetes Mellitus maka komplikasi penyakit Diabetes Mellitus juga akan lebih mudah terjadi.


·         Determinan      
  Berbagai hal dapat menjadi penyebab terjadinya penyakit Diabetes Mellitus diantaranya adalah :

1.            Obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat kegemukan dengan IMT> 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.
2.            Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi erat kaitannya dengan tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer
3.            Riwayat keluarga
 Diabetes MellitusSeorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Mellitus.

4.            Dislipedimia
Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida > 250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.
5.     Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah  > 45 tahun
6.      Riwayat persalinan
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan bayi > 4000 gram. 


2.4  Gambaran klinis
Pada awalnya, penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes mellitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika seseorang mengalami keluhan klasik DM berupa:
·         poliuria (banyak berkemih)
·         polidipsia (rasa haus sehingga jadi banyak minum)
·         polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-menerus)
·         penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang, untuk memperkuat diagnosis dapat diperiksa keluhan tambahan DM berupa:
·         lemas, mudah lelah, kesemutan, gatal
·         penglihatan kabur
·         penyembuhan luka yang buruk
·         disfungsi ereksi pada pasien pria
·         gatal pada kelamin pasien wanita


2.5  Patofisiologi
Seperti suatu mesin, tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Disamping itu juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Energi sebagai bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak.
Di dalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar dari makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh untuk dipergunakan oleh organ-organ didalam tubuh sebagai bahan bakar.  Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu kedalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yan hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin (suatu zat/ hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas) memegang peranan yang sangat penting yaitu bertugas memasukan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar. Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta dalam pulau-pulau Langerhans (kumpulan sel yang berbentuk pulau di dalam pankreas dengan jumlah ± 100.000) yang jumlahnya sekitar 100 sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa kedalam sel, untuk kemudian dimetabolisir menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak dapat masuk sel. Dan akibatnya glukosa akan tetap berada didalam pembuluh darah, yang artinya kadarnya didalam darah meningkat. Dalam keadaan seperti ini tubuh akan menjadi lemas karena tidak ada sumber energi di dalam sel. Inilah yang terjadi pada DM tipe 1. Tidak adanya insulin pada DM tipe 1 karena pada jenis ini timbul reaksi otoimun yang disebabkan karena adanya peradangan pada sel beta (insulitis). Insulitis bisa disebabkan karena macam-macam diantaranya virus, seperti virus cocksakie, rubela, CMV, herpes, dan lain-lain. Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa (Suyono, 1999).
Sedangkan pada DM tipe2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak. Tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang. Reseptor ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk kedalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang  kurang, hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa di dalam pembuluh darah akan meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada DM tipe 1. Perbedaanya adalah pada DM tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi, juga kadar insulin tinggi atau normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin (Suyono, 1999).
Penyebab resistensi insulin pada DM tipe 2 sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor-faktor di bawah ini banyak berperan, antara lain:
1)       Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel)
2)       Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat
3)       Kurang gerak badan
4)       Faktor keturunan (herediter)
Baik pada DM tipe 1 maupun pada DM tipe 2 kadar glukosa darah jelas meningkat dan bila kadar itu melewati batas ambang ginjal, maka glukosa itu akan keluar melalui urin. Mungkin inilah sebabnya penyakit ini disebut juga penyakit kencing manis (Suyono, 1999).


2.6  Diagnosa
Diagnosis DM tidak boleh didasarkan atas ditemukannya glukosa pada urin saja. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dari pembuluh darah vena. Sedangkan untuk melihat dan mengontrol hasil terapi dapat dilakukan dengan memeriksa kadar glukosa darah kapiler dengan glukometer.
Seseorang didiagnosis menderita DM jika ia mengalami satu atau lebih kriteria di bawah ini:
·         Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu  ≥200 mg/dL
·         Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa  ≥126 mg/dL
·         Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥200 mg/dL
·         Pemeriksaan HbA1C ≥ 6.5%
Keterangan:
·         Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir pasien.
·         Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori tambahan minimal selama 8 jam.
·         TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan larutan glukosa khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah meminum larutan tersebut. Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.
Jika kadar glukosa darah seseorang lebih tinggi dari nilai normal tetapi tidak masuk ke dalam kriteria DM, maka dia termasuk dalam kategori prediabetes. Yang termasuk ke dalamnya adalah
·         Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT), yang ditegakkan bila hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL dan  kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO < 140 mg/dL
·         Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), yang ditegakkan bila kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO antara 140 – 199 mg/dL

Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM:


Bukan DM
Belum Pasti DM
DM
Kadar glukosa darah sewaktu (mg/dL)
Plasma vena
<100
100-199
≥200
Darah kapiler
<90
90-199
≥200
Kadar glukosa darah puasa (mg/dL)
Plasma vena
<100
100-125
≥126
Darah kapiler
<90
90-99
≥100


2.7  Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien diabetes mellitus akan menyebabkan berbagai komplikasi, baik yang bersifat akut maupun yang kronik. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para pasien untuk memantau kadar glukosa darahnya secara rutin.
a)      Komplikasi akut
Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik (KAD) dan Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar glukosa darah sangat tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200 mg/dL), dan pasien biasanya tidak sadarkan diri. Karena angka kematiannya tinggi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan yang memadai.
Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana terjadi penurunan kadar glukosa darah sampai < 60 mg/dL. Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia misalnya pasien meminum obat terlalu banyak (paling sering golongan sulfonilurea) atau menyuntik insulin terlalu banyak, atau pasien tidak makan setelah minum obat atau menyuntik insulin.
Gejala hipoglikemia antara lain banyak berkeringat, berdebar-debar, gemetar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan jika berat, dapat hilang kesadaran sampai koma. Jika pasien sadar, dapat segera diberikan minuman manis yang mengandung glukosa. Jika keadaan pasien tidak membaik atau pasien tidak sadarkan diri harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan dan pemantauan selanjutnya.
b)     Komplikasi kronik
Penyakit diabetes mellitus yang tidak terkontrol dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Pembuluh darah yang dapat mengalami kerusakan dibagi menjadi dua jenis, yakni pembuluh darah besar dan kecil.
Yang termasuk dalam pembuluh darah besar antara lain:
·         Pembuluh darah jantung, yang jika rusak akan menyebabkan penyakit jantung koroner dan serangan jantung mendadak
·         Pembuluh darah tepi, terutama pada tungkai, yang jika rusak akan menyebabkan luka iskemik pada kaki
·         Pembuluh darah otak, yang jika rusak akan dapat menyebabkan stroke
Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) misalnya mengenai pembuluh darah retina dan dapat menyebabkan kebutaan. Selain itu, dapat terjadi kerusakan pada pembuluh darah ginjal yang akan menyebabkan nefropati diabetikum.  
Saraf yang paling sering rusak adalah saraf perifer, yang menyebabkan perasaan kebas atau baal pada ujung-ujung jari. Karena rasa kebas, terutama pada kakinya, maka pasien DM sering kali tidak menyadari adanya luka pada kaki, sehingga meningkatkan risiko menjadi luka yang lebih dalam (ulkus kaki) dan perlunya melakukan tindakan amputasi. Selain kebas, pasien mungkin juga mengalami kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, lebih terasa sakit di malam hari serta kelemahan pada tangan dan kaki. Pada pasien yang mengalami kerusakan saraf perifer, maka harus diajarkan mengenai perawatan kaki yang memadai sehingga mengurangi risiko luka dan amputasi.



2.8  Pengobatan
Pemberian obat kepada pasien sesuai petunjuk dokter merupakan suatu tindakan/ praktek kesehatan yang dilakukan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan sebagai bagian dari perilaku seseorang terhadap stimulus atau objek kesehatan (yang dalam hal ini adalah masalah kesehatan, termasuk penyakit DM yang diderita seseorang), yang kemudian dalam proses selanjutnya akan melaksanakan atau mempraktekkan sesuai apa yang diketahuinya dan disikapi/ dinilainya baik untuk dilakukan ( Notoadmodjo S, 2007).
Menurut Sidartawan Soegondo, prinsip pemberian obat/ pengobatan terhadap pasien DM terdiri atas 2  yaitu:
a.  Pengobatan dengan insulin dan,
b. Pengobatan dengan Obat Hipoglikemik Oral.

a.      Pengobatan dengan insulin
Indikasi pemberian obat bagi pasien dengan terapi insulin, diberikan untuk:
1)      Semua orang dengan diabetes tipe 1 yang memerlukan insulin eksogen karena produksi insulin oleh sel beta tidak ada atau hampir tidak ada.
2)      Orang dengan diabetes tipe 2 tertentu yang mungkin membutuhkan insulin bila terapi jenis lain tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah atau apabila mengalami stres fisiologi seperti pada tindakan pembedahan.
3)      Orang dengan diabetes kehamilan (diabetes yang timbul selama kehamilan) membutuhkan insulin bila diet tidak saja dapat mengendalikan kadar glukosa darah.
4)      Orang yang diabetes dengan ketoasidosis.
5)      Orang dengan diabetes yang mendapat nutrisi parenteral atau yang memerlukan suplemen tinggi kalori untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat, secara bertahap akan memerlukan insulin eksogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal selama periode resistensi insulin atau ketika terjadi peningkatan kebutuhan insulin.
6)      Pengobatan sindroma hiperglikemi non-ketotik-hiperosmolar

·         Cara Penggunaan Insulin
Sekresi insulin dapat dibagi menjadi sekresi insulin basal (saat puasa atau sebelum makan) dan insulin prandial (setelah makan). Insulin basal ialah insulin yang diperlukan untuk mencegah hiperglikemia puasa akibat glukoneogenesis dan juga mencegah ketogenesis yang tidak terdeteksi. Insulin Prandial ialah jumlah insulin yang dibutuhkan untuk mengkonversi bahan nutrien ke dalam bentuk energi cadangan sehingga tidak terjadi hiperglikemia postprandial.
Insulin Koreksi (supplement) ialah insulin yang diperlukan akibat kenaikan kebutuhan insulin yang disebabkan adanya penyakit atau stres. Pemberian insulin tergantung pada kondisi pasien dan fasilitas yang tersedia. Untuk pasien yang non-emergensi, pemberian suntikan subkutan atau intramuskular (jarang dilakukan). Pada pasien dengan kondisi kegawatan diberikan dengan pompa infus atau secara bolus intra vena. Insulin dapat juga diberikan secara subkutan dengan menggunakan pompa insulin atau yang dikenal dengan continuous subcutaneous insulin infusion (CSII).
Sebelum menyuntikan insulin, kedua tangan dan daerah yang harus disuntik haruslah bersih. Tutup vial insulin harus diusap dengan isopropil alkohol 70%. Untuk semua macam insulin kecuali kerja cepat, harus digulung-gulung secara perlahan-lahan dengan kedua telapak tangan (Jangan dikocok) untuk melarutkan kembali suspensi. Ambilah udara sejumlah insulin yang akan diberikan dan suntikanlah kedalam vial untuk mencegah terjadi ruang vakum dalam vial. Hal ini terutama diperlukan bila akan dipakai campuran insulin.
Bila mencampur insulin kerja cepat dengan kerja menengah atau panjang, maka insulin yang jernih atau kerja cepat harus diambil terlebih dahulu. Setelah insulin masuk ke alat suntik, periksalah apa mengandung gelembung udara. Satu atau dua ketukan pada alat suntik dalam posisi tegak akan dapat mengurangi gelembung tersebut. Gelembung tersebut sebenarnya tidaklah terlalu berbahaya tetapi dapat mengurangi dosis insulin.
Penyuntikan dilakukan pada jaringan subkutan. Pada umumnya disuntikan dengan sudut 90 derajat. Pada pasien kurus dan anak-anak, setelah kulit dijepit dan insulin disuntikan dengan sudut 45 derajat agar tidak terjadi penyuntikan intra muskular. Aspirasi tidak perlu dilakukan secara rutin. Bila suntikan terasa sakit atau mengalami perdarahan setelah proses penyuntikan maka daerah tersebut sebaiknya ditekan selama 5-8 detik.

·         Karateristik Insulin Berdasarkan Waktu Kerja
Sediaan insulin yang ada di pasaran Indonesia, berdasarkan waktu kerja dapat dilihat pada tabel di halaman  berikut ini:
Tabel 1. Karateristik Insulin Berdasarkan Waktu Kerja
Sediaan Insulin
Awal Kerja
Puncak Kerja
Lama Kerja
Insulin Prandial
Insulin Kerja cepat
Regular (Actrapid; Humulin R)
Insulin analog, kerja sangat cepat
Insulin glulisine (apidra*)
Insulin aspart (Novo Rapid *)
Insulin lispro (Humalog)


30-60 mnt

5-15 mnt
5-15 mnt
5-15 mnt


30-90 mnt

30-90 mnt
30-90 mnt
30-90 mnt


5-8 jam

3-5 jam
3-5 jam
3-5 jam
Insulin Kerja Menengah
NPH (Insulatard, Humulin N)
Lente

2-4 jam
3-4 jam

4-10 jam
4-12 jam

10-16 jam
12-18 jam
Insulin Kerja Panjang
Insulin glargine (Lantus)
Ultralente*
Insulin detemir (Levemir*)

2-4 jam
6-10 jam
2-4 jam

Tdk ada puncak
8-10 jam
Tdk ada puncak
Insulin Campuran
(kerja cepat dan menengah)
70%NPH/ 30% reguler )Mixtard: Humulin 70/30)
70%NPH/ 30% analog rapid (NovoMix 30)


30-60 mnt


Dual


10-16 jam
Sumber: Soegondo S dalam Penatalaksanaan DM Terpadu,  2007





b.     Pengobatan dengan OHO (Obat Hipoglikemik Oral)
Menurut Tjokroprawiro Askandar, dkk, 2007, syarat OHO berhasil baik bila diet dan latihan fisik harus dilaksanakan dengan benar (3J), Jumlah-Jadwal-Jenis dan diberikan pada penderita yang:
a)       Umur > 40 tahun.
b)       Lama DM-nya kurang dari 5 tahun.
c)       Belum pernah suntik insulin, atau bila pernah suntik insulin, kebutuhan insulin kurang dari 20 unit/ hari.


2.9  Program penanggulangan penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia
Program pencegahan primer di Indonesia telah dilaksanakan oleh PT.Merck Indonesia Tbk bekerja sama dengan Depkes RI dan organisasi profesi (PERKENI) dan organisasi kemasyarakatan (PERSADI dan PEDI) yaitu program bertajuk Pandu Diabetes dengan simbol Titik Oranye. Melakukan kegiatan-kegiatan antara lain memberikan informasi dan edukasi mengenai Diabetes Mellitus dan pemeriksaan kadar gula darah secara gratis bagi sejuta orang yang telah diluncurkan oleh Menkes pada 15 Maret 2003. Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadillah Supari, Sp. JP(K) akan membentuk direktorat baru di Departemen Kesehatan untuk menangani Penyakit Tidak Menular (PTM )karena berdasarkan data Depkes untuk jumlah pasien Diabetes rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama untuk seluruh penyakit endokrin.(Depkes,2005)Terdapat klinik kaki diabetes di salah satu rumah sakit milik pemerintah yang merupakan bentuk layanan yang diberikan bagi penderita diabetes. Ini salah satu bentuk perhatian pemerintah kepada penderita Diabetes Mellitus mengingat penderita Diabetes sangant rentan untuk terkena infeksi, hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi amputasi kaki akibat pekait Diabetes Mellitus. Federasi Diabetes Internasional (IDF) mengeluarkan pernyataan konsensus baru mengenai pencegahan diabetes, menjelang resolusi Majelis Umum PBB pada bulan Desember 2006 yang menghimbau aksi internasional bersama. Konsensus IDF baru ini merekomendasikan bahwa semua individu yang beresiko tinggi terjangkiti diabetes tipe-2 dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan oportunistik oleh dokter, perawat, apoteker dan dengan pemeriksaan sendiri. Profesor George Alberti, mantan presiden IDF sekaligus penulis bersama konsensus baru IDF mengatakan: “Terdapat banyak bukti dari sejumlah kajian di Amerika Serikat, Finlandia, Cina, India dan Jepang bahwa perubahan gaya hidup (mencapai berat badan yang sehat dan kegiatan olahraga yang moderat) dapat ikut mencegah berkembangnya diabetes tipe-2 pada mereka yang beresiko tinggi (2-6). Konsensus baru IDF ini menganjurkan bahwa hal ini haruslah merupakan intervensi awal bagi semua orang yang beresiko terjangkiti diabetes tipe-2, dan juga fokus dari pendekatan kesehatan penduduk.” (SUMBER: Federasi Diabetes Internasional) 
·         Isu Mutakhir
Isu mutakhir tentang penyakit Diabetes Mellitus adalah :
1.   Adanya hubungan timbal balik antara periodontitis (infeksi pada mulut) dengan Diabetes Mellitus, keterlibatan dokter gigi dalam penanganan pasien Diabetes Mellitus perlu ditingkatkan. (Saidina Hamzah Daliemunthe,2003)
2.   Dokter gigi dituntut untuk lebih aktif memposisikan diri sebagai mitra dokter umum/dokter spesialis dalam penanganan pasien Diabetes Mellitus. (Saidina Hamzah Daliemunthe,2003)
3.   Perlu adanya perlindungan kepada obat tradisional untuk penyakit Diabetes Mellitus agar tetap asli dari tanaman obat dan tidak diberi tambahan zat kimia. (Siti Sapardiyah Santoso, 2003)
4.   Perlu dipelajari lebih lanjut dengan mengadakan pendekatan kasus dengan metode penelitian yang khusus pula mengapa penderita IDDM dapat bertahan hidup selama 1 minggu tanpa insulin dengan melalui penggantian insulin atau adaptasi. (Haryadi Suparto, 2004)
5.   Obat anti Diabetes oral sebaiknya tidak diberikan pada Diabetes Mellitus dengan Tuberkulosis paru karena adanya efek rifampicin dan isoniazid yang mengurangi efek obat tersebut. (Harsinen Sanusi, 2004)
6.   Kadar glukosa darah yang terkontrol pada penderita Diabetes Mellitus dapat menurunkan derajat kegoyahan gigi sebesar 51,45%. (Md Ayu Lely S, 2004)
7.   Melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan bahan aktif yang diisolasi dari buah mengkudu untuk mengetahui efeknya dalam menurunkan kadar gula darah. (Ramadhani RB,2001)
8.   Perlu dikembangkan kegiatan di kelompok-kelompok masyarakat guna meningkatkan pengetahuan kesehatan terutama gizi, sehingga masyarakat mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk menangani masalah kesehatan yang dihadapinya. (Yuli Kusumawati, 2006)
9.   Perlunya melakukan penelitian isolasi kandungan Eugenia Polyantha dan menguji khasiat hipoglikemianya untuk menurunkan kadar glukosa darah. (Herra Studiawan,2004)





























BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
·         Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
·         Diabetes terdiri dari 2 tipe, yaitu: Diabetes mellitus Tipe 1 (IDDM : Insulin Dependent Diabetes Mellitus) : tergantung dengan insulin. Diabetes mellitus Tipe 2 (NIDDM : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) : tidak tergantung dengan insulin.
·         Diabetes Mellitus merupakan penyebab kematian tertinggi di bagian instalasi rawat inap di rumah sakit di Indonesia yaitu sebanyak 3.316 kematian dengan CFR 7,9%.  Penyebab utama terjadi Diabetes Mellitus dipengaruhi oleh tidak terkontrolnya glukosa darah akibat factor kegemukan, hipertensi, pengetahuan, life style, dan sebagainya.
·         Menurut Sidartawan Soegondo, prinsip pemberian obat/ pengobatan terhadap pasien DM terdiri atas 2  yaitu: a.  Pengobatan dengan insulin dan, b. Pengobatan dengan Obat Hipoglikemik Oral


3.2 SARAN
·         Melakukan penanganan yang serius terhadap penyakit diabetes mellitus supaya dapat menurunkan angka kematian disebabkan penyakit diabetes mellitus.
·         Adanya sosialisasi terhadap individu yang berisiko maupun msyarakat umum.










DAFTAR PUSTAKA



NN, “DM”. Id.scribd.com. diakses pada 12 april 2013.
NN, “penderita diabetes dominasi RSUD Pirngadi Medan”. www.bisnis-sumatra.com diakses pada 12 april 2013.

NN, “prevalensi diabetes mellitus di Indonesia”. www.depkes.go.id. Diakses pada 13 april 2013.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar